FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai memasuki tahap akhir persiapan keberangkatan menuju Tanah Suci.
Persiapan ini tidak hanya menyangkut administrasi dan pembagian kloter, tetapi juga kesiapan fisik serta mental para jemaah agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kendari, H Sunardin, menyebutkan jumlah JCH asal Kota Kendari mencapai 546 orang.
Dimana, jumlah tersebut setara dengan 26,5 persen dari total jemaah haji Sulawesi Tenggara.
Ke-546 jemaah itu kemudian dibagi lima kelompok terbang atau kloter, yakni kloter 32, kloter 34, kloter 36, kloter 39, dan kloter 43.
Pembagian kloter ini, untuk mengatur arus keberangkatan agar lebih tertib dan terkoordinasi.
Sunardin menjelaskan, jadwal keberangkatan sudah ditetapkan secara bertahap.
“Keberangkatan tanggal 12 Mei nanti insyaallah sebanyak tiga kali penerbangan, lalu tanggal 13 Mei satu penerbangan,” ujar dia.
Skema keberangkatan tersebut disusun agar seluruh jemaah dapat diberangkatkan sesuai urutan kloter masing-masing.
Dengan pola itu, proses pemberangkatan dari Kendari menuju embarkasi dapat berlangsung lebih efektif.
Sementara itu, perhatian terhadap aspek kesehatan juga menjadi bagian penting dalam persiapan haji tahun ini.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendari, Hasria, mengingatkan adanya sejumlah penyakit yang paling sering dialami jemaah di Tanah Suci.
“Tiga penyakit paling sering dialami jemaah haji saat berada di tanah suci,” kata Hasria saat diwawancarai usai pelepasan Jemaah Calon Haji (JCH), pada Kamis (30/4/2026).
Ia menyebutkan, tiga penyakit tersebut adalah jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menurut Hasria, penyakit jantung dan PPOK tidak selalu muncul karena bawaan sejak awal, tetapi juga dapat dipicu oleh faktor lain selama ibadah haji berlangsung.
Faktor kelelahan dan stres menjadi dua hal yang cukup berpengaruh terhadap kondisi jemaah. Karena itu, ia menegaskan pentingnya persiapan fisik dan mental sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Makanya kami selalu mengingatkan para jemaah untuk persiapkan fisik dan mental,” kata dia.
Selain jantung dan PPOK, ISPA juga menjadi penyakit yang kerap muncul pada jemaah haji. Kondisi ini biasanya dipengaruhi perubahan cuaca ekstrem, kelelahan, serta penularan di tengah kerumunan.
Hal tersebut menjadi perhatian serius mengingat cuaca di Tanah Suci diperkirakan bisa mencapai 40 derajat Celsius. Dengan kondisi itu, jemaah asal Kendari diimbau membawa vitamin dan obat-obatan yang diperlukan.
Petugas kesehatan juga menyarankan jemaah untuk mempersiapkan kebutuhan pribadi guna menghadapi cuaca panas.
Di antaranya adalah persediaan air minum, pakaian berwarna putih, semprotan wajah, lipgloss, losion, masker, kacamata hitam, payung, kaos, dan alas kaki yang nyaman.
Selain perlengkapan fisik, para jemaah juga diingatkan agar memprioritaskan ibadah sesuai kondisi kesehatannya masing-masing.
Prinsipnya, ibadah tetap dijalankan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh.
Sebelumnya, pelepasan JCH asal Kendari sendiri dilakukan secara seremonial di Asrama Haji Sultra, Jalan Wulele, Kelurahan Bonggoeya, Kecamatan Wuawua, Kendari.
Kegiatan ini menjadi penanda resmi dimulainya pemberangkatan jemaah tahun ini.
Suasana pelepasan tersebut juga menunjukkan besarnya dukungan pemerintah daerah dan pihak terkait terhadap jemaah haji.
Dukungan itu diharapkan mampu memberikan ketenangan bagi para calon tamu Allah.
Dengan jumlah jemaah yang cukup besar, pembagian kloter menjadi langkah penting untuk menjaga keteraturan keberangkatan.
Proses ini juga memudahkan koordinasi antara petugas, jemaah, dan pihak embarkasi.
Di sisi lain, pendampingan kesehatan menjadi penopang utama agar para jemaah tetap mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah.
Kesiapan ini penting karena tantangan di Tanah Suci tidak hanya soal ibadah, tetapi juga kondisi lingkungan yang berat.
Karena itu, persiapan haji asal Kota Kendari tahun ini tidak hanya menitikberatkan pada jadwal dan kloter, tetapi juga pada perlindungan kesehatan jemaah.
Dengan bekal yang matang, diharapkan seluruh jemaah dapat menunaikan ibadah haji dengan aman, lancar, dan khusyuk. (*)
Editor: Redaksi | Laporan: Is



Comment