FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Bencana banjir akibat cuaca ekstrem kembali melanda Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, dampak yang ditimbulkan cukup masif, baik terhadap pemukiman warga maupun sektor pertanian.
Hingga Senin (11/5/2026), tercatat total 657 unit rumah terendam air, yang mengakibatkan 2.985 jiwa harus bertahan di tengah kondisi yang mengkhawatirkan. Banjir ini telah meluas hingga ke tujuh kecamatan di kota tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, membenarkan bahwa tim gabungan saat ini sedang berupaya maksimal menanggapi situasi darurat ini.
“Data sementara menunjukkan ada tujuh kecamatan terdampak. Prioritas utama kami saat ini adalah menjamin keselamatan warga dan memastikan distribusi logistik ke titik-titik pengungsian berjalan lancar,” ujar Cornelius.
Kecamatan Wua-Wua dan Baruga menjadi wilayah dengan titik banjir terbanyak. Selain merendam pemukiman dan memutus akses jalan, banjir ini juga memberikan pukulan telak bagi petani. Di Kecamatan Baruga saja, tercatat sekitar 50 hektare sawah rusak parah akibat genangan air yang belum surut.
Sementara itu, Kecamatan Kambu menjadi titik paling kritis. Di kawasan Jalan Mangkaray, tercatat 100 rumah terendam dengan 900 jiwa terdampak, dan di Jalan Hidayatullah sebanyak 76 rumah dengan 300 jiwa turut terkena imbasnya.
Berikut rincian wilayah lain yang juga dilanda banjir,
Poasia, genangan air melanda Kelurahan Andonohu, meliputi Jalan Durian, Lorong Alpukat, hingga kompleks perumahan.
Wua-Wua, banjir tersebar di Kelurahan Wua-Wua, Bonggoeya, Wowawanggu, dan Wundudopi.
Abeli, puluhan rumah di Kelurahan Abeli dan Anggalomelai dilaporkan terendam.
Mengingat prakiraan cuaca memprediksi curah hujan masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan, BPBD mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai atau wilayah cekungan.
Warga diimbau untuk tidak menunda evakuasi jika melihat tanda-tanda debit air meningkat. (*)
Editor: Redaksi | Laporan: Wan



Comment