SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Sultra Ekonomi

Tim Dosen Optimalkan Pengeringan Cabai Petani Desa Liabalano Muna Lewat Kabinet Dryer Hemat Energi

Tim pengabdian masyarakat lintas dosen bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Muna dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Liabalano saat peragaan pengoperasian alat kabinet dryer hemat energi.

FAKTAINDONESIA.NET, MUNA – Sekelompok dosen lintas disiplin menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk *”Optimalisasi Pengeringan Cabai Menggunakan Kabinet Dryer Hemat Energi”* di Desa Liabalano, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Liabalano sebagai mitra utama, dengan harapan dapat menjawab persoalan pascapanen cabai yang selama ini menjadi kendala klasik bagi petani setempat.

Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Liabalano saat menyimak penjelasan teknis mengenai tata cara pengolahan dan pengeringan cabai higienis.

Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta dari KWT Desa Liabalano ini resmi dibuka oleh Kepala Desa Liabalano, Bapak Alifuddin, SE. Dalam sambutannya, Kepala Desa menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim pengabdian di wilayahnya dan berharap program ini dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi warga, khususnya para petani cabai yang tergabung dalam kelompok wanita tani setempat.

Turut hadir dan memberikan dukungan dalam kegiatan ini Drs. H. Bachrun, M.Si., serta Bupati Muna, Prof. Dr. Ir. Hj. Sitti Leomo, M.Si. Kehadiran unsur pemerintah daerah ini menunjukkan besarnya perhatian pemerintah kabupaten terhadap upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, khususnya sektor pertanian hortikultura yang menjadi andalan ekonomi warga Desa Liabalano.

Kegiatan PKM ini diketuai oleh Dr. Sakir, S.T., M.Sc., bersama sejumlah anggota tim dari berbagai latar belakang keilmuan, yaitu Baihaqi, S.TP., M.Si., Prof. Dr. H. Tamrin, S.P., M.P., Ir. Hermanto, M.P., Dr. Muh. Syukri Sadimantara, S.T., M.P., dan dr. Rhenislawaty, Sp.A. Komposisi tim yang lintas disiplin ini, mulai dari bidang teknik, pertanian, hingga kesehatan, mencerminkan pendekatan pengabdian yang holistik, tidak hanya menyentuh aspek teknologi pengolahan pangan tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan masyarakat dalam proses produksinya.

Desa Liabalano dipilih sebagai lokasi kegiatan karena potensi pertanian cabai yang cukup besar namun masih dihadapkan pada persoalan pascapanen yang belum tertangani secara optimal. Selama ini, petani di desa tersebut mengeringkan cabai secara tradisional dengan cara dijemur langsung di bawah sinar matahari menggunakan terpal atau tampah di pekarangan rumah. Metode ini sangat bergantung pada cuaca dan rawan menyebabkan kegagalan produk, terutama pada musim peralihan ketika curah hujan tidak menentu. Selain itu, cabai yang dijemur secara terbuka juga rentan terkontaminasi debu, kotoran, maupun hewan yang berkeliaran bebas di sekitar area penjemuran.

Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga, Tim PKM Terintegrasi KKN Tematik Gelar Pelatihan Pengelolaan dan Pengemasan Sayuran Hidroponik

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan teknologi kabinet dryer hemat energi sebagai solusi alternatif pengeringan cabai yang lebih andal. Berbeda dengan penjemuran konvensional, kabinet dryer mampu mengontrol suhu dan aliran udara secara lebih stabil sehingga menghasilkan cabai kering dengan kadar air yang lebih seragam, warna yang lebih terjaga, serta bebas dari kontaminasi debu dan serangga karena proses pengeringan berlangsung dalam ruang tertutup. Yang membedakan teknologi ini dengan kabinet dryer pada umumnya adalah desainnya yang dioptimalkan agar hemat energi, mengingat akses listrik di wilayah pedesaan seperti Desa Liabalano masih terbatas kapasitasnya dan biaya operasional menjadi pertimbangan penting bagi petani berskala usaha kecil.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak hanya berupa penyerahan alat, tetapi juga mencakup pelatihan dan pendampingan langsung kepada anggota KWT Desa Liabalano mengenai cara pengoperasian kabinet dryer, mulai dari tahap persiapan bahan baku cabai, pengaturan suhu pengeringan, hingga penanganan hasil pengeringan agar tetap higienis dan berkualitas baik. Para peserta juga diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja alat, termasuk bagaimana desain hemat energi pada kabinet dryer ini dapat menekan biaya operasional dibandingkan penggunaan alat pengering konvensional berbasis listrik atau bahan bakar fosil.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para anggota KWT tampak aktif bertanya seputar teknis pengoperasian alat serta perhitungan sederhana mengenai efisiensi penggunaan energi dibandingkan metode penjemuran yang selama ini mereka jalankan. Sesi diskusi dan tanya jawab turut mewarnai jalannya kegiatan, di mana tim pengabdian memberikan penjelasan secara rinci mengenai manfaat jangka panjang dari penerapan teknologi pengeringan modern ini terhadap peningkatan mutu dan nilai jual produk cabai kering.

Keterlibatan Dr. Rhenislawaty, Sp.A. sebagai salah satu anggota tim dari bidang kesehatan turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan ini. Aspek kesehatan dan keamanan pangan menjadi salah satu perhatian khusus, mengingat produk pangan yang diproses secara higienis akan berdampak langsung pada kesehatan konsumen yang mengonsumsinya. Pendekatan multidisiplin semacam ini diharapkan mampu menghasilkan produk cabai kering yang tidak hanya unggul dari sisi mutu dan daya simpan, tetapi juga aman dikonsumsi.

Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menjalankan salah satu pilar Tridharma, yakni pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjadi wujud kontribusi nyata dunia akademik dalam menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat di tingkat desa. Melalui pendekatan berbasis teknologi tepat guna, tim berharap petani cabai di Desa Liabalano dapat lebih mandiri dalam mengolah hasil panennya, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca, serta mampu meningkatkan nilai tambah produk melalui diversifikasi olahan cabai kering.

‎Bahlil Turun Gunung ke Kolaka, Golkar Sultra Pasang Target Rebut Kembali Kejayaan

Dari sisi ekonomi, penerapan teknologi kabinet dryer hemat energi ini juga diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan klasik anjloknya harga cabai segar pada masa panen raya. Dengan kemampuan mengolah cabai menjadi produk kering yang tahan lama, petani memiliki opsi untuk menyimpan hasil panen dan menjualnya secara bertahap sesuai kebutuhan pasar, alih-alih terpaksa menjual seluruh hasil panen dalam kondisi segar dengan harga rendah akibat pasokan yang melimpah secara bersamaan.

Kepala Desa Liabalano dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan program ini, termasuk kemungkinan replikasi teknologi kabinet dryer di kelompok tani lain yang ada di wilayah desa apabila hasil dari program percontohan ini menunjukkan dampak positif bagi peningkatan pendapatan warga. Dukungan serupa juga disampaikan pihak kecamatan dan kabupaten yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengingat program pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menitikberatkan pada penguatan sektor pertanian dan ekonomi kerakyatan.

Ke depan, tim pengabdian berencana melakukan pendampingan lanjutan untuk memastikan keberlanjutan pemanfaatan teknologi yang telah diperkenalkan, termasuk evaluasi berkala terhadap kinerja alat serta pendampingan dalam aspek pemasaran produk cabai kering hasil olahan KWT Desa Liabalano. Dengan sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat, kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan petani cabai di Desa Liabalano, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta, tim pengabdian, dan unsur pemerintah yang hadir, sekaligus menandai dimulainya kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi dan masyarakat Desa Liabalano dalam mengembangkan potensi hortikultura lokal secara berkelanjutan. (*)

Editor : Redaksi

Ditresnarkoba Polda Sultra Ungkap Pengedar Narkotika Jenis Sabu dan Ekstasi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement