FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Video permintaan maaf Owner 12 Shop Kendari terkait polemik konten yang sebelumnya diduga menyinggung tata cara ibadah umat Islam, tiba-tiba tidak lagi terlihat di akun Instagram @12shopkendari.
Padahal, video permintaan maaf tersebut sebelumnya diunggah sebagai bentuk klarifikasi atas konten yang sempat menuai sorotan dan kecaman dari sejumlah pihak.
Konten yang menjadi sorotan sebelumnya menampilkan Owner 12 Shop Kendari bersama sejumlah karyawan dalam video bertema “Manifesting adalah Doa”. Dalam unggahan tersebut juga terdapat tulisan:
“Semoga Duabelas Shop selalu ramai pembeli, jadi pusat fashion No. 1 di Kendari.”
Dalam video itu, terlihat sejumlah karyawan perempuan yang mengenakan hijab dan diduga beragama Islam mengikuti suatu gestur atau tata cara berdoa yang diarahkan oleh owner. Gestur tersebut dinilai oleh sejumlah pihak tidak lazim dalam tata cara doa umat Islam.
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena owner dan sejumlah karyawan diketahui memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda.
Sebelumnya, Koalisi Aktivis Mahasiswa Pemuda dan Ormas (KOMPAS) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Divisi Data dan Informasi, Andri, telah menyoroti konten yang diunggah melalui akun Instagram @12shopkendari pada 8 September 2026.
Mereka menilai konten tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan dan keresahan di tengah masyarakat, khususnya berkaitan dengan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing dalam lingkungan kerja.
“Kami tidak ingin persoalan ini berkembang menjadi konflik. Namun, ketika sebuah konten publik menampilkan karyawan Muslim yang diduga diarahkan mengikuti tata cara doa yang tidak sesuai dengan tata cara ibadah Islam, tentu hal tersebut patut dipertanyakan dan perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak 12 Shop Kendari,” tegas Andri.
Menurut pihaknya, persoalan yang menjadi sorotan bukan mengenai perbedaan keyakinan antara owner dan karyawan. Namun, lebih kepada bagaimana kegiatan yang melibatkan pekerja dengan latar belakang agama berbeda dilakukan dan kemudian ditampilkan kepada publik melalui media sosial.
Atas persoalan tersebut, KOMPAS Sultra sebelumnya meminta Owner 12 Shop Kendari berinisial K memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai maksud, konteks, serta tujuan pembuatan konten tersebut.
Owner 12 Shop Kendari kemudian sempat mengunggah video permintaan maaf yang berdurasi beberapa detik. Namun, belakangan video tersebut disebut sudah tidak terlihat lagi pada akun Instagram @12shopkendari.
Hilangnya video permintaan maaf tersebut kemudian kembali dipertanyakan oleh KOMPAS Sultra.
KOMPAS Sultra menilai penghapusan video tersebut dapat menimbulkan pertanyaan di tengah publik, terutama mengenai keseriusan pihak 12 Shop Kendari dalam memberikan klarifikasi dan menyikapi persoalan yang telah menjadi sorotan.
“Kalau video permintaan maaf itu memang dibuat untuk meluruskan persoalan, tentu publik juga berhak mengetahui mengapa kemudian video tersebut dihapus atau tidak lagi terlihat di akun Instagram,” ujar Andri.
KOMPAS Sultra juga menegaskan bahwa persoalan tersebut masih akan dikomunikasikan dan dilaporkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara serta Polda Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan penilaian dan memastikan apakah konten yang dipersoalkan memiliki unsur pelanggaran hukum atau tidak.
Langkah tersebut, menurut KOMPAS Sultra, diperlukan agar persoalan dapat menjadi terang dan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman maupun kegaduhan di tengah masyarakat.
KOMPAS Sultra juga menilai setiap konten yang menyangkut simbol, tata cara ibadah, atau keyakinan agama perlu dibuat secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi yang dapat memicu keresahan atau konflik sosial.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak 12 Shop Kendari belum memberikan tanggapan atas hilangnya video permintaan maaf tersebut. Upaya konfirmasi melalui akun Instagram @12shopkendari juga belum mendapatkan respons.
Kendati begitu, redaksi tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak 12 Shop Kendari untuk memberikan penjelasan mengenai penghapusan video tersebut maupun konteks konten yang sebelumnya menjadi sorotan.


Comment