SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkini

Ekonomi Sultra Tumbuh 5,89 Persen, UMKM Jadi Penopang di Tengah Ketidakpastian Global

FAKTAINDONESIA.NET – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) justru berhasil mencatatkan kinerja gemilang.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Sultra tumbuh 5,89 persen (y-o-y) pada Semester I tahun 2025, meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini ditopang hampir seluruh sektor usaha. Pertanian (24,57%) masih menjadi tulang punggung, disusul pertambangan (20,78%), perdagangan (12,66%), konstruksi (10,61%), dan industri pengolahan (10,19%).

Menariknya, sektor industri pengolahan tumbuh paling tinggi, yakni 18,07 persen, berkat dorongan industri makanan-minuman serta program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sektor pertambangan juga naik 8,99 persen seiring dibukanya izin usaha baru oleh Kementerian ESDM.

Fkpmi Sultra Desak Gakkum Kementerian Esdm Ri Dan Kejaksaan Agung Ri Menindak Tegas Dugaan Pelanggaran Oleh Kontraktor Pt Autar Putra Mandiri Di Wilayah Iup Pt Sambas Minerals Mining

Sementara pariwisata dan kuliner ikut mendongkrak sektor akomodasi dan makanan-minuman hingga 11,38 persen.

Peran UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) terbukti menjadi penggerak utama.

KUR: Hingga Semester I 2025, penyaluran KUR di Sultra mencapai Rp1,94 triliun untuk 31.098 debitur. Meski turun 6,83 persen dari tahun lalu, kontribusinya tetap signifikan.

Kabupaten Kolaka Timur mencatat penyaluran terbesar (Rp307,07 miliar), sedangkan Kota Kendari terendah (Rp4,82 miliar).

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendominasi dengan porsi 66,18 persen dari total penyaluran.

Dikerumuni Semut dan Lemas, Bayi Perempuan Ditemukan Selamat di Eks Kantor Diknas Kapontori Buton

UMi: Justru mencetak rekor tertinggi sepanjang 2020–2025, mencapai Rp40,55 miliar untuk 8.200 debitur, atau naik 11,94 persen dibanding tahun lalu. Sebagian besar disalurkan oleh PNM (85,98%). Kabupaten Muna jadi penerima terbesar (Rp7,05 miliar), sementara Muna Barat terendah (Rp731 juta).

Sektor perdagangan besar dan eceran masih mendominasi, baik pada KUR (41,08%) maupun UMi (95,6%). Namun, sektor pertanian yang berkontribusi besar terhadap PDRB justru masih minim akses pembiayaan, khususnya UMi yang hanya tercatat Rp394 juta untuk 56 debitur.

Nilai Tukar Petani (NTP) Sultra pada Juni 2025 berada di angka 110,70, turun dari Mei (113,94). Penurunan ini memberi sinyal perlambatan pertumbuhan sektor pertanian, meski kontribusinya masih vital.

Ke depan, penguatan sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan dinilai krusial. Strateginya mencakup pembangunan ekosistem keuangan inklusif, pembiayaan berbasis rantai pasok, serta dukungan usaha pascapanen mulai dari pengolahan kakao, produk perikanan, hingga mebel kayu lestari.

Dengan langkah tersebut, UMKM sektor pertanian diharapkan lebih mudah mengakses pembiayaan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sultra.(*)

Polresta Kendari Ungkap Kasus Penggelapan dan Curanmor, Residivis Ditangkap Setelah Beraksi di Enam TKP

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement