FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, warga RT 18/RW 05 Kelurahan Bonggoeya, Kota Kendari, mengikuti kegiatan pelatihan pembuatan eco-enzyme dan biopori yang dilaksanakan di Pos Ronda RT 18/RW 05 Kelurahan Bonggoeya, Sabtu (27/6).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga dan konservasi air melalui teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.
Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara, RT 18/RW 05 Kelurahan Bonggoeya, Jurusan Ilmu Lingkungan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo, Komunitas Teras, Komunitas Sahabat Bumi, Kanopi Wallacea, PT Geo Econusa Madani, dan PT Mitra Hijau Asia.

Ibu-ibu PKK Kelurahan Bonggoeya saat mempraktikkan pemotongan limbah organik kulit buah sebagai bahan baku utama pembuatan cairan fermentasi eco-enzyme.
Pada kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan eco-enzyme yang dibawakan oleh Ibu Yusnani mewakili Komunitas Sahabat Bumi. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan konsep eco-enzyme sebagai hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai pembersih serbaguna, pupuk alami, pengurang bau pada saluran air, serta sebagai upaya mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan lubang resapan biopori yang disampaikan oleh Dr. La Ode Midi, S.P., M.P., dosen dari Jurusan Ilmu Lingkungan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo. Dalam materinya, Dr. La Ode Midi menjelaskan pentingnya biopori sebagai salah satu teknologi konservasi tanah dan air yang mampu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi genangan dan limpasan permukaan, serta membantu meningkatkan kesuburan tanah melalui pemanfaatan sampah organik.

Ibu-ibu PKK Kelurahan Bonggoeya saat mempraktikkan pemotongan limbah organik kulit buah sebagai bahan baku utama pembuatan cairan fermentasi eco-enzyme.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik pembuatan eco-enzyme menggunakan campuran sampah kulit buah, gula merah, dan air dengan perbandingan 3:1:10, serta praktik pembuatan lubang resapan biopori di lingkungan sekitar lokasi kegiatan.
Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu bentuk edukasi lingkungan kepada masyarakat agar mampu menerapkan pengelolaan lingkungan secara mandiri di tingkat rumah tangga.
“Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat mengelola sampah organik secara bijak, mengurangi pencemaran lingkungan, serta berperan aktif dalam konservasi air dan tanah di lingkungan tempat tinggalnya,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi warga dalam sesi diskusi dan praktik lapangan. Peserta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mampu membentuk masyarakat yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Bersama Kita Bisa, Lingkungan Terjaga, Hidup Lebih Bermakna.”
Editor: Redaksi





Comment