FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Alih-alih belajar untuk menghadapi ujian sekolah, enam remaja di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), justru harus berurusan dengan hukum.
Mereka tertangkap basah Tim Patroli Perintis Presisi Dit Samapta Polda Sultra, Rabu (15/4/2026) malam, saat sedang asyik bermain qiu-qiu.
Penggerebekan dipimpin Bripka Boy Sagita ini terjadi di sebuah rumah warga di Jalan Bunga Kana, Kelurahan Watu-Watu, sekitar pukul 23.00 WITA.
Kehadiran petugas, membuat para remaja yang sedang fokus mengatur strategi kartu tersebut tak sempat melarikan diri.
Langkah tegas kepolisian ini bukan tanpa alasan. Warga sekitar mengaku sudah lama resah dengan aktivitas di lokasi tersebut, sering dijadikan tempat berkumpul untuk berjudi.
”Setibanya di lokasi, tim mendapati para remaja sedang bermain, dan langsung dilakukan pengamanan,” ujar Dantim 1 Patroli, Bripka Boy Sagita, pada Kamis (16/4/2026).
Dari enam remaja diamankan, mayoritas ternyata masih berstatus pelajar di bawah umur.
Mereka adalah SY (16), FR (22), FZ (15), MS (16), AF (17), dan FD (16).
Selain mengamankan para pelaku, polisi juga menyita sejumlah barang bukti cukup mengejutkan di lokasi kejadian.
Yakni uang tunai senilai Rp212.000, dua pasang kartu domino, alat isap sabu (dua pipet kaca).
Satu botol kecil berisi zat yang diduga narkotika jenis sintetis dan Tiga unit sepeda motor.
Sangat disayangkan, aksi nekat para remaja ini dilakukan tepat saat mereka seharusnya berkonsentrasi menghadapi ujian sekolah.
Menurut penuturan warga, aktivitas serupa memang sudah berulang kali terjadi di tempat yang sama, seolah menantang hukum.
Saat ini, keenam remaja beserta seluruh barang bukti telah diserahkan ke Mapolsek Kemaraya untuk pemeriksaan lebih mendalam, termasuk pendalaman terkait temuan zat narkotika.
Pihak kepolisian memberikan imbauan keras kepada para orang tua agar lebih ketat mengawasi pergaulan dan aktivitas anak-anak mereka.
Terutama di jam malam, agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran tindak pidana yang dapat merusak masa depan. (*)
Editor: Redaksi | Laporan: Wan



Comment