SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Sultra Inspirasi

Cabai Bernilai, Perempuan Berdaya: Tim PKM Fakultas Pertanian UHO Dampingi Kelompok Wanita Tani Liabalano Tingkatkan Nilai Tambah Produk Cabai

Penyerahan peralatan produksi secara simbolis oleh tim akademisi Universitas Halu Oleo (kiri) yang disaksikan langsung oleh Kepala Desa Liabalano Alifuddin, S.E., dan Bupati Kabupaten Muna Bachrun Labuta, M.Si. (kanan).

FAKTAINDONESIA.NET, MUNATim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan program bertajuk “Cabai Bernilai, Perempuan Berdaya: Program Budidaya Berkelanjutan dan Hilirisasi Produk Cabai dengan Solar Dryer dan Digital Marketing di Desa Liabalano Kabupaten Muna” sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas cabai sekaligus memberdayakan perempuan pedesaan.

Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Liabalano mencoba alat pengering tenaga surya (solar dryer) untuk mengeringkan cabai segar hasil panen di Desa Liabalano, Kabupaten Muna

Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 ini dipimpin oleh Dr. RH. Fitri Faradilla dari Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), bersama anggota Prof. Sitti Leomo dari Jurusan Ilmu Tanah dan Ilian Elvira, M.Sc. dari ITP. Sejak Mei hingga Juni 2026, tim akademisi telah memberikan pendampingan komprehensif kepada 20 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Liabalano, mulai dari aspek pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah lokal hingga pengolahan hasil panen berbasis teknologi.

Salah satu peserta pelatihan memamerkan produk olahan cabai bubuk berkualitas dengan merek dagang “SahaLia” yang telah mengantongi Sertifikat Halal.

Melalui penggunaan alat solar dryer atau pengering tenaga surya, proses pengeringan cabai berlangsung lebih higienis dibanding penjemuran terbuka, mampu mempertahankan warna merah alami, cita rasa, serta memuaskan mutu mutu produk sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya simpan lebih panjang.

Inovasi teknologi ini hadir sebagai solusi konkret atas masalah anjloknya harga cabai saat panen raya, di mana petani kini memiliki pilihan untuk mengolah cabai segar menjadi cabai kering atau cabai bubuk yang siap dipasarkan saat harga menguntungkan.

Selain pengolahan teknis, KWT Liabalano juga dibekali pelatihan pengemasan, pelabelan, serta penyepakatan identitas merek produk bernama “SahaLia”—berasal dari kata Saha yang berarti cabai dan Lia dari nama Desa Liabalano—yang kini telah resmi mengantongi Sertifikat Halal guna memberikan jaminan kepercayaan bagi konsumen pasar luas.

Gerebek Arena Sabung Ayam di Mandonga, Polresta Kendari Bekuk 17 Pelaku dan Tembakkan Peringatan

produk olahan cabai bubuk berkualitas dengan merek dagang “SahaLia” yang telah mengantongi Sertifikat Halal.

 

Guna menjamin keberlanjutan usaha mitra, tim pengabdian UHO menyerahkan bantuan peralatan produksi berupa satu unit solar dryer tiga rak, oven gas, blender, bahan kemasan, heat sealer, dan hot gun yang disaksikan langsung oleh Bupati Muna, Bachrun Labuta, M.Si., bersama Kepala Desa Liabalano, Alifuddin, S.E.. Pada tahap berikutnya, pendampingan akan difokuskan pada pelatihan digital marketing dan pencatatan keuangan usaha profesional agar produk olahan cabai Desa Liabalano dapat menjadi komoditas unggulan daerah yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Kehadiran program ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi UHO dalam memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal di Sulawesi Tenggara.

Editor: Redaksi

Modus Pacari Lalu Kuras Harta, Pelaku Penggelapan Motor di Kendari Diringkus Polisi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement