SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Sultra Inspirasi

Inovasi Pangan Kelapa, Tim PKMI UHO Latih Warga Labuan Bajo Bikin Produk Fermentasi Coco Gurt

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKMI-UHO) Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo foto bersama perwakilan Pemerintah Desa Labuan Bajo, Bhabinkamtibmas Bripda Radman N, serta warga peserta pelatihan sambil menunjukkan produk inovasi coco gurt dan pamflet panduan di Desa Labuan Bajo, Wakorumba Utara, Buton Utara, Sabtu (11/07/2026).

FAKTAINDONESIA.NET, BUTON UTARA – Upaya menggerakkan potensi komoditas pangan lokal menuju produk olahan bernilai tambah tinggi terus dipacu oleh akademisi perguruan tinggi di kawasan pesisir Sulawesi Tenggara. Langkah nyata tersebut diwujudkan oleh Tim Program Kemitraan Masyarakat Internal Universitas Halu Oleo (PKMI-UHO).

Pelatihan diversifikasi komoditas lokal kelapa menjadi produk inovatif coco gurt bagi masyarakat Desa Labuan Bajo, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara. Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis sains dan teknologi pangan ini dirancang untuk memberikan keterampilan praktis serta membuka peluang unit usaha berbasis rumah tangga bagi warga desa setempat.

Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh akademisi Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan UHO, Dr. Sakir, S.T., M.Sc., yang didampingi oleh tim dosen yang terdiri atas Dr. Ir. Norma Arif, M.P., Dr. Hidrawati, S.P., M.Si., dan Arfiani, S.P., M.Si. Selain unsur dosen, kolaborasi ini juga melibatkan mahasiswa Aprilia Geisha dan Citra Amanda, serta laboran Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan UHO, Haerullah, S.TP. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh perwakilan pemerintah desa, Ld. Muh. Labil Mirsad, S.T., serta dihadiri oleh Bhabinkamtibmas Bripda Radman N. Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas kelompok bapak dan ibu rumah tangga mengikuti pelatihan dengan penuh antusiasme guna menyerap edukasi teknis pengolahan fermentasi kelapa tersebut.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Bapak Ld. Muh. Labil Mirsad, S.T. selaku perwakilan perangkat Desa Labuan Bajo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada tim PKMI-UHO yang telah memilih Desa Labuan Bajo sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian. Menurutnya, pelatihan pengolahan kelapa menjadi produk inovatif sangat relevan dengan kondisi masyarakat karena kelapa merupakan salah satu komoditas yang mudah dijumpai dan telah lama dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari warga.

Ketua Tim PKMI-UHO, Dr. Sakir, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkenalkan cara baru dalam memanfaatkan kelapa sebagai bahan baku pangan bernilai tambah. Selama ini, kelapa umumnya dijual dalam bentuk buah segar, santan, minyak, atau bahan masakan. Padahal, melalui sentuhan ilmu dan teknologi pangan, kelapa dapat diolah menjadi produk fermentasi yang lebih menarik dan berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Hilang Kendali di Tikungan Tongauna, Pick Up Tabrak Motor Ibu dan Dua Anak di Konawe

Menurut Dr. Sakir, diversifikasi pangan merupakan langkah penting dalam meningkatkan daya guna komoditas lokal. Diversifikasi tidak hanya berarti menghasilkan variasi produk, tetapi juga mencakup upaya memperpanjang masa simpan, meningkatkan nilai jual, memperluas segmen konsumen, dan menciptakan identitas produk daerah. Coco gurt diperkenalkan sebagai salah satu inovasi yang dapat dikembangkan dari bahan berbasis kelapa dengan karakter menyerupai yoghurt.

Dalam pemaparannya, Dr. Sakir menjelaskan prinsip fermentasi yang digunakan dalam pembuatan coco gurt. Proses fermentasi memerlukan ketelitian karena dipengaruhi oleh kondisi bahan, suhu, kebersihan, dan waktu. Apabila proses tidak dilakukan dengan benar, produk dapat mengalami perubahan aroma, tekstur, atau rasa yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, peserta diarahkan untuk mengikuti takaran dan tahapan secara konsisten.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme melalui berbagai pertanyaan mengenai lama penyimpanan, kemungkinan penambahan rasa, biaya produksi, pilihan kemasan, serta cara memasarkan produk. Tim menjawab pertanyaan tersebut dengan menyesuaikan kondisi usaha rumah tangga dan kemampuan produksi masyarakat desa. Peserta disarankan untuk memulai produksi dalam skala kecil agar dapat melakukan evaluasi terhadap rasa, tekstur, dan penerimaan konsumen.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan membantu menyiapkan bahan, mendampingi peserta, mencatat jalannya pelatihan, dan mendokumentasikan proses kegiatan. Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman belajar langsung mengenai penerapan ilmu di masyarakat. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta memahami kebutuhan masyarakat secara kontekstual.

Haerullah, S.TP. sebagai laboran Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan memberikan dukungan teknis terutama dalam penggunaan peralatan dan penerapan prosedur pengolahan. Peran laboran penting untuk memastikan proses praktik berjalan sesuai tahapan dan memperhatikan aspek keselamatan serta kebersihan. Sinergi antara dosen, mahasiswa, dan laboran membuat pelatihan menjadi lebih sistematis.

Tim PKM Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Gelar Bimbingan Teknis Pengelolaan Lahan Berkelanjutan di Desa Batu Putih

Selain keterampilan produksi, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengemasan. Kemasan bukan hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi juga melindungi produk dari kontaminasi, memudahkan penyimpanan, serta meningkatkan daya tarik konsumen. Tim menyarankan penggunaan kemasan yang bersih, aman untuk pangan, praktis, dan sesuai dengan kapasitas produksi rumah tangga.

Informasi pada label produk juga menjadi perhatian dalam pelatihan. Nama produk, komposisi, tanggal produksi, batas konsumsi, cara penyimpanan, dan identitas produsen perlu dicantumkan secara jelas. Label yang informatif dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membantu produsen membangun citra produk yang profesional. Peserta didorong untuk menggunakan nama dan desain yang mencerminkan identitas Desa Labuan Bajo.

Dalam aspek pemasaran, masyarakat diperkenalkan pada strategi sederhana yang dapat diterapkan tanpa membutuhkan biaya besar. Produk dapat diperkenalkan melalui lingkungan keluarga, tetangga, pasar desa, kegiatan masyarakat, pertemuan kelompok, dan media sosial. Pemasaran dari mulut ke mulut dapat menjadi langkah awal untuk menguji penerimaan konsumen sebelum memperluas jangkauan pasar.

Tim PKMI-UHO menegaskan bahwa kualitas produk harus menjadi prioritas. Promosi yang baik tidak akan memberikan hasil berkelanjutan apabila mutu produk tidak konsisten. Karena itu, peserta perlu menjaga keseragaman rasa, tekstur, kebersihan, ukuran kemasan, dan pelayanan kepada pembeli. Catatan produksi juga disarankan agar setiap proses dapat dievaluasi dan diperbaiki.

Ketua Tim PKMI-UHO, Dr. Sakir, S.T., M.Sc. (kedua dari kiri), saat menyampaikan materi pemaparan diversifikasi olahan kelapa berbasis fermentasi di hadapan perangkat desa dan warga Desa Labuan Bajo, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara.

Pelatihan ini memberikan peluang khusus bagi kelompok ibu rumah tangga untuk mengembangkan kegiatan produktif dari rumah. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, produksi coco gurt dapat menjadi alternatif usaha tambahan yang dikelola secara fleksibel. Sementara itu, kelompok bapak dapat berperan dalam penyediaan bahan baku, distribusi, pemasaran, serta pengembangan jaringan usaha.

Tuntut Transparansi Sport Center Watubangga, APKW Minta Pemkab Kolaka Libatkan Pemuda

Kerja sama antara bapak dan ibu rumah tangga diharapkan melahirkan kelompok usaha yang lebih kuat. Pembagian tugas dapat dilakukan berdasarkan kemampuan anggota, mulai dari pengadaan kelapa, pengolahan, pengemasan, pencatatan keuangan, promosi, hingga penjualan. Pengelolaan kelompok yang baik akan membantu menjaga keberlanjutan produksi dan mengurangi ketergantungan pada satu orang.

Kegiatan PKMI-UHO ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan lokal. Ilmu yang dikembangkan di kampus perlu diterapkan dalam bentuk kegiatan yang mudah dipahami dan dapat digunakan secara langsung. Pendekatan seperti ini memperkuat hubungan antara akademisi dan masyarakat serta membuka ruang kerja sama lanjutan.

Bagi Universitas Halu Oleo, kegiatan pengabdian menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil pengetahuan sekaligus memperoleh pemahaman mengenai kondisi nyata masyarakat. Interaksi dengan warga memberikan masukan penting bagi pengembangan kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian berikutnya. Sementara bagi desa, kehadiran perguruan tinggi dapat memperluas akses terhadap teknologi tepat guna dan inovasi pangan.

Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi diskusi dan evaluasi. Mereka menyampaikan kesan, pertanyaan, serta harapan agar pendampingan dapat dilanjutkan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pengolahan kelapa menjadi coco gurt diterima sebagai pengetahuan baru yang menarik dan berpotensi diterapkan dalam kegiatan rumah tangga maupun kelompok usaha.

Dr. Sakir bersama anggota tim berharap agar peserta dapat menjadi penggerak awal pengembangan produk coco gurt di Desa Labuan Bajo. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibagikan kepada warga lain sehingga manfaat kegiatan semakin luas. Tim juga mendorong masyarakat untuk terus berinovasi tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan dan mutu produk.

Kegiatan ditutup dengan semangat bersama untuk mengembangkan potensi kelapa sebagai produk pangan inovatif. Melalui pelatihan ini, masyarakat Desa Labuan Bajo diharapkan mampu meningkatkan kreativitas, keterampilan, dan keberanian memulai usaha. Coco gurt tidak hanya diperkenalkan sebagai produk olahan baru, tetapi juga sebagai contoh bahwa komoditas lokal dapat dikembangkan melalui ilmu pengetahuan, kerja sama, dan kemauan untuk berinovasi.

Pelaksanaan PKMI-UHO di Desa Labuan Bajo menjadi bukti nyata komitmen Universitas Halu Oleo dalam mendukung pemberdayaan masyarakat Sulawesi Tenggara. Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, aparat, dan warga, potensi lokal dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi baru yang bermanfaat bagi keluarga dan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Editor :  Redaksi | Laporan :  Sul

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement