SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Sultra

Tim Dosen UHO Dorong Peningkatan Nilai Ekonomi Cabai di Desa Liabalano Melalui Inovasi Budidaya dan Pengolahan Pascapanen

FAKTAINDONESIA.NET — Tim dosen dari Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Peningkatan Nilai Ekonomi Cabai Melalui Teknik Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen yang Inovatif” di Desa Liabalano, Kabupaten Muna, pada Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan pemerintah desa yang melihat potensi besar sektor hortikultura di wilayah tersebut.

Kepala Desa Liabalano, Alifudin, S.E., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut.

Menurutnya, Desa Liabalano memiliki lahan yang luas dan subur, sangat mendukung pengembangan tanaman hortikultura, khususnya cabai. Namun, ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi petani, yakni harga cabai yang sering anjlok saat panen raya.

“Harga bisa turun hingga sepuluh ribu rupiah per kilogram. Karena itu, kami sangat berharap ada solusi pengolahan yang bisa memperpanjang daya simpan cabai dan menstabilkan harga,” katanya, pada keterangannya, Selasa (11/11/2025).

Bentuk Dukungan kepada Presiden Prabowo, GPIM Luncurkan “Makan Bowo Gratis” di Konawe

Sesi materi pertama dibawakan oleh Prof. Sitti Leomo, dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UHO sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Muna.

Dalam paparannya, Prof. Leomo menjelaskan bahwa teknik budidaya cabai yang dilakukan petani di Desa Liabalano sebenarnya sudah cukup baik, terbukti dari hasil panen yang melimpah dan berkualitas.

Ia juga membagikan tips ramah lingkungan dalam mengendalikan hama, salah satunya dengan pemanfaatan air ekstrak kulit bawang sebagai pestisida alami.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. RH Fitri Faradilla, dosen Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UHO. Ia menekankan pentingnya pengolahan pascapanen untuk meningkatkan nilai ekonomi cabai.

Pertamax Melonjak Jadi Rp 16.250, Ini Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Per 10 Juni 2026 di Jawa hingga Sulawesi

“Cabai kering memiliki harga yang lebih stabil dan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan cabai segar,” jelas Dr. Faradilla.


Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan berbagai teknik pengeringan cabai, mulai dari cara tradisional seperti menggantung cabai hingga penggunaan oven. Dr. Faradilla mengingatkan agar suhu pengeringan tidak melebihi 60°C, agar warna dan rasa cabai tetap terjaga.

“Kalau suhu terlalu tinggi, cabai bisa berubah warna menjadi gelap dan rasanya berkurang,” tambahnya.

Masyarakat, terutama para ibu petani, tampak antusias mengikuti praktik langsung tersebut. Mereka mempelajari cara menyusun cabai untuk dikeringkan dengan teknik menusukkan benang pada pangkal tangkai cabai. Banyak peserta mengaku baru mengetahui bahwa cabai dapat dikeringkan tanpa kehilangan warna merahnya dan tetap mempertahankan rasa pedas yang kuat.

Antusiasme ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana namun efektif tersebut dapat menjadi solusi baru dalam mengawetkan hasil panen dan menekan kerugian akibat fluktuasi harga.

Pria di Kendari Mengamuk dan Rusak Rumah Warga Pakai Sajam Sebelum Diciduk Polisi

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Liabalano diharapkan mampu mengembangkan teknik budidaya dan pengolahan cabai yang lebih efisien, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi. Selain meningkatkan pendapatan petani, program ini juga menjadi langkah nyata UHO dalam mendukung kemandirian pangan dan ekonomi desa.(*)

Editor : Redaksi | Laporan : Samsul

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement