FAKTAINDONESIA.NET, KOLAKA – Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan yang identik dengan kemudahan akses, sebuah potret getir justru tersaji dari Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di desa ini harus mempertaruhkan nyawa setiap hari demi menimba ilmu. Sungai deras yang membelah desa menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang tak kenal lelah dalam mengejar cita-cita.

Potret perjuangan siswa SMP di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kolaka, saat harus menyeberangi sungai deras tanpa jembatan untuk menuju sekolah, Sabtu (4/4/2026).
Sebuah video yang belakangan viral di media sosial menampilkan dua siswi berseragam batik dengan tatapan penuh harap, menyuarakan aspirasi mereka langsung kepada petinggi daerah. Di hadapan latar alam yang indah namun menyimpan ancaman, kedua pelajar ini tak sungkan menyampaikan keluh kesah mereka kepada Gubernur Sulawesi Tenggara dan Bupati Kolaka. Dengan suara lirih, mereka memohon agar pemerintah melihat kondisi desa terpencil mereka, karena seringkali mereka terpaksa tidak bersekolah saat banjir melanda.

Potret perjuangan siswa SMP di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kolaka, saat harus menyeberangi sungai deras tanpa jembatan untuk menuju sekolah, Sabtu (4/4/2026).
Bagi masyarakat Desa Mataosu, sungai tersebut bukan hanya urat nadi kehidupan, tetapi juga menjadi tembok penghalang terbesar dalam mengakses pendidikan. Saat musim kemarau, menyeberangi sungai mungkin hanya menjadi tantangan fisik semata. Namun, ketika musim penghujan tiba, arus sungai berubah menjadi ganas. Banjir yang kerap melanda memastikan para siswa absen dari kegiatan belajar mengajar karena tidak adanya jalur alternatif yang aman untuk melintas.
Kondisi memprihatinkan ini sontak memicu gelombang keprihatinan dari berbagai kalangan di Sulawesi Tenggara. Para siswa ini tidak meminta fasilitas mewah, melainkan sebuah jembatan—sebuah infrastruktur sederhana yang sangat dinantikan untuk menjamin keselamatan mereka saat berangkat dan pulang sekolah. Harapan besar kini tertuju pada kebijakan pemerintah daerah untuk segera memberikan solusi nyata agar pendidikan di pelosok Kolaka tidak lagi terhambat oleh ganasnya arus sungai.(*)
Editor: Redaksi | Laporan : Wan


Comment