FAKTAINDONESIA.NET — Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) menjalin kolaborasi internasional dengan Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam kegiatan International Collaboration Service bertajuk “Modification of Steaming Molds and the Application of Vacuum Frying for the Development of Packaged Kasoami Products and Marketing Systems at the MSME Level”.
Program pengabdian kolaboratif ini berfokus pada modifikasi proses pengolahan dan pengemasan produk lokal Kasoami, salah satu makanan tradisional khas masyarakat Buton dan Muna berbahan dasar ubikayu.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 6 Oktober 2025 di Kelurahan Toronipa, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Kegiatan yang digagas oleh Prof. Dr. Tamrin, SP., MP. (Ketua), Dr. Dasmin Sidu, SP., M.Sc., dan Dr. Yusriah, SP., MP. ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi akademik Indonesia–Malaysia dalam pengembangan pangan lokal berbasis potensi daerah.

Program ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia untuk mendorong penganekaragaman pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Melalui kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang berbasis sumber daya lokal, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan alternatif bahan pangan pokok, salah satunya dari ubikayu.
“Ubikayu merupakan komoditas penting di Sulawesi Tenggara, terutama di wilayah Buton dan Muna. Melalui inovasi pengolahan dan kemasan, kita ingin mendorong produk tradisional seperti Kasoami agar lebih kompetitif dan bisa masuk ke pasar modern,” jelas Prof. Tamrin, Senin (10/11/2025).
Sementara itu, kolaborasi dengan pihak Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dilakukan karena adanya kesamaan kondisi dan tantangan dalam program diversifikasi pangan di kedua negara. Di Malaysia, pemerintah juga tengah mengembangkan alternatif pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada beras, terutama saat terjadi krisis pangan.
Dalam kegiatan ini, tim pengabdian memperkenalkan modifikasi cetakan pengukusan Kasoami agar produk memiliki ukuran lebih kecil diameter dan tinggi sekitar 3–4 cm sehingga lebih praktis, menarik secara visual, dan mudah dikemas.
Selain itu, diperkenalkan juga teknologi sederhana vacuum frying untuk meningkatkan cita rasa dan memperpanjang daya simpan produk.

Dengan ukuran mini dan kemasan food grade, Kasoami kini dapat dipasarkan lebih luas, baik di tingkat lokal maupun nasional.
“Modifikasi ini membuat penyajian lebih praktis dan meningkatkan nilai jual produk. Harapannya, UMKM di Toronipa dan sekitarnya dapat mengembangkan produk Kasoami kemasan yang memiliki daya saing tinggi,” kata Dr. Dasmin Sidu.
Dorong Ekonomi UMKM dan Sinergi Akademik
Program kolaborasi ini tidak hanya fokus pada inovasi produk, tetapi juga pada penguatan sistem pemasaran UMKM melalui pelatihan branding, strategi digital marketing, dan manajemen produksi.
Dr. Yusriah menambahkan bahwa kegiatan pengabdian ini diharapkan menjadi contoh keberhasilan kerja sama akademik lintas negara dalam mengembangkan produk lokal berbasis riset dan teknologi tepat guna.
“Dengan sentuhan inovasi dan kemasan modern, Kasoami bisa menjadi ikon baru pangan lokal Sulawesi Tenggara yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.(*)
Editor : Redaksi | Laporan : Samsul


Comment