FAKTAINDONESIA.NET, KENDARI – Usia bukan penghalang untuk terus menuntut ilmu. Prinsip inilah yang dibuktikan langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Hugua. Di usianya yang menginjak 65 tahun, Hugua resmi merengkuh gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (26/07/2026).
Menuntaskan pendidikan doktor selama enam semester, Hugua lulus dengan predikat memuaskan lewat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73. Ia diwisuda bersama 1.405 lulusan IPDN lainnya.
Gelar doktor tersebut diraih Hugua usai mempertahankan disertasinya yang berfokus pada “Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal di Provinsi Sultra”.
Penelitian ini diangkat berangkat dari keprihatinannya terhadap potensi alam dan budaya Sultra yang luar biasa, namun belum berkontribusi optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain angka kunjungan wisatawan yang masih di bawah rata-rata nasional, persoalan kelestarian lingkungan di destinasi wisata juga menjadi tantangan mendesak.
Dalam risetnya, Hugua membedah berbagai kendala utama pariwisata Sultra. Ia menemukan bahwa meski wisatawan tertarik dengan keindahan bahari, budaya, dan kuliner khas Sultra, pengalaman mereka sering terhalang oleh minimnya atraksi, terbatasnya layanan publik, serta sulitnya akses transportasi antardaerah yang memicu tingginya biaya perjalanan.
Guna menjawab tantangan tersebut, Hugua merumuskan sebuah gagasan terobosan yang ia namakan Model HUGUA.
Konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan ini bersandar pada lima pilar utama, Humanity (Kemanusiaan)
, niqueness (Keunikan kearifan lokal), overnance (Tata kelola pemerintah), Universal Promotion (Promosi digital yang masif) dan Accessibility (Kemudahan aksesibilitas).
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi pentahelix pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, dan media untuk memperkuat desa wisata serta melestarikan budaya lokal.
Menyelesaikan studi tingkat akhir di tengah padatnya agenda pemerintahan tentu bukan perkara mudah. Bagi Hugua, tantangan terberat selama enam semester terakhir adalah manajemen waktu.
”Yang paling berat adalah membagi waktu. Amanah sebagai Wakil Gubernur tentu menjadi prioritas utama, tetapi di saat yang sama saya tetap berupaya menyelesaikan studi doktoral hingga tuntas. Alhamdulillah, keduanya bisa berjalan beriringan,” kata Hugua.
Keberhasilannya ini diharapkan dapat menjadi lecutan motivasi bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan generasi muda di Sultra agar tidak berhenti belajar.
”Bagi ASN dan generasi muda, kalian masih memiliki waktu yang panjang. Manfaatkan kesempatan itu untuk terus belajar. Pengembangan kompetensi pribadi akan membuat kita mampu memberikan manfaat dan dampak yang lebih besar bagi kemajuan Sulawesi Tenggara,” tutupnya.
Editor: Redaksi | Laporan : Wan





Comment